Bola Plastik, Gerbong Ingatan, dan Kebahagiaan

Bola Plastik, Gerbong Ingatan, Dan Kebahagiaan
HUT RI 75

Pagi ini, 21/6/2020, saya dan Omar serta beberapa keponakan lain (Ijik, Sofa, dan Ulfa) bermain bola plastik di pekarangan rumah nenek (ibu saya). Lumayan luas untuk bermain lima orang.

Rumah nenek kebetulan persis di depan jalan raya. Di hari libur sekarang, terlihat banyak sekali kendaraan bermotor berseliweran menuju objek wisata pantai Anyer. Jadi, sambil bermain bola, sesekali mata kami tertuju ke jalan raya menyaksikan pengendara motor dan mobil di sana.

Bermain bola ala kami tentu tak seperti aturan ketat FIFA. Gawang hanya berupa dua buah sendal jepit yang dipasang kanan-kiri sekitar satu meter tanpa tiang, tanpa hands ball,  juga tanpa offside, apalagi kiper.

Kami bermain bola penuh riang gembira, cekakan, tertawa bersama, tanpa beban walau mereka kebobolan gawang sejumlah jari tangan dan kaki. Kebetulan, saya, seorang diri harus melawan 4 orang bocah kecil seumuran anak SD dan TK kelas besar.

Bermain bola bersama anak dan keponakan membawa gerbong ingatan saya saat kecil dulu. Yang membedakannya adalah lokasi kami berlaga dan jumlah pemain.

Dulu, kami bermain bola plastik di halaman gedung sekolah agama, atau sesekali di sawah yang disulap menjadi lapangan bola, jika musim kemarau. Sedangkan jumlah pemainnya jauh lebih banyak. Satu tim, bisa berjumlah 6 atau 7 orang. Dan biasanya ditonton banyak orang, warga sekitar. Waktu yang kami pilih biasanya setelah asar. Disamping tak terlalu panas, pula setelah tugas belajar (jam sekolah) kami usai.

Bermain bola itu sangat simpel. Kumpulkan sejumlah orang kemudian tentukan tim dengan metode suwit (kami menyebutnya “gangsut”), lanjut berlaga. Jika di tengah permainan ada yang mau bergabung, pastikan ada dua orang, kemudian gangsut, langsunglah masuk lapangan untuk memperkuat tim yang telah dipilihnya.

Soal wasit, jarang sekali kami memakai “wasit khusus”untuk memimpin pertandingan. Setiap kami adalah wasit  bagi permainan kami sendiri. Di sanalah ‘fair play’ kami terapkan. Kejujuran setiap pemain adalah fair play bagi permainan kami. Praktik demokrasi sudah kami laksanakan sejak dini dalam permainan bola plastik; mulai dari penentuan tim, kesepakatan tak memakai wasit, hingga waktu atau durasi permainan.

Jika dirasa masih lama masuk ke waktu magrib, meski kami sudah letih, maka permainan akan kami lanjutkan. Atau jika dirasa skor lawan main terlihat jomplang dan lawan main merasa penasaran, maka”tim menang” akan melayaninya hingga rasa kepenasarannya terpuaskan.

Semuanya kami lakukan berdasarkan kesepakatan bersama. Ada komunikasi atau dialog di dalamnya. Yang paling mengagumkan, tak ada perkelahian di antara kami. Hari itu teman menjadi lawan, besok bisa jadi menjadi tim. Yang menentukan adalah metode gangsut itu.

Masa kecil memang saat- saat terindah, dimana setiap individu (pasti) merasakan perjalanannya. Terpatri kuat dalam ingatan, selalu. Tak ada beban materi maupun psikologi yang mengiringinya. Ia berjalan seolah aliran air, mengalir dari hulu hingga hilir sesuai kodratnya.

Hari ini, saya mendapatkan “kebahagiaan konkret” bersama seorang anak laki-laki dan 3 bocah keponakan saya saat bermain bola plastik di halaman rumah nenek.

Raut wajah mereka yang sumringah, gelak tawa yang merekah. Suasana pagi pun mejadi renyah. Mereka adalah aset bangsa, penerus perjuangan Abah Madjadji dan Ibu Amenah kelak. Semoga selalu dalam lindungan Allah dan diberkahi-Nya. Amin

Gunung Buntung, Minggu Pagi, 21 Juni 2020 (Bung Rifai )

Artikel ini pernah dimuat di kompasiana

More News